www.radarharian.id – Arsul Sani, seorang politikus berpengalaman, baru-baru ini dilantik sebagai Hakim Konstitusi pada 18 Januari 2024. Pelantikan ini merupakan langkah penting yang dilakukan DPR RI untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Wahiduddin Adams, yang telah mencapai usia pensiun.
Pelantikan tersebut berdasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 102 P Tahun 2023, yang ditetapkan pada 24 Oktober 2023. Keputusan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga integritas dan keadilan di ranah hukum negara.
Sebelum menempati posisi penting di Mahkamah Konstitusi, Arsul dikenal luas sebagai praktisi hukum yang aktif dalam berbagai organisasi dan partai politik. Kariernya yang beragam menunjukkan dedikasi dan kemampuannya dalam mengelola berbagai permasalahan hukum dan sosial di masyarakat.
Selain pengalamannya di dunia hukum, Arsul juga pernah menduduki jabatan tinggi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Hal ini mencerminkan kepercayaannya untuk memimpin dan berkontribusi dalam pembangunan hukum dan politik di Indonesia.
Profil Arsul Sani yang Menarik untuk Diketahui
Arsul Sani lahir di Pekalongan pada 8 Januari 1964, dari keluarga dengan latar belakang religius yang kuat. Ayahnya, Kiai Haji Abdullah Fadjari, adalah seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang menanamkan nilai-nilai keagamaan dan sosial dalam diri Arsul sejak dini.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Pekalongan, ia melanjutkan studi ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1982. Gelar sarjana hukum berhasil diraihnya pada tahun 1987, yang membuka jalan untuk berbagai peluang di bidang hukum dan politik.
Setelah itu, arsul melanjutkan pendidikan pasca-sarjana di bidang hukum di University of Technology Sydney pada tahun 2003. Ia juga memperoleh gelar magister komunikasi korporat di London School of Public Relations di Jakarta pada tahun 2007, yang semakin memperkaya pengetahuan dan keterampilannya.
Walaupun sempat belajar di luar negeri, Arsul tidak menyelesaikan pendidikan S3 di Glasgow. Namun, perjalanannya tidak berhenti hingga di situ, ia melanjutkan studi doktoral di Collegium Humanum di Polandia pada tahun 2023, menunjukkan semangat belajarnya yang tiada henti.
Karier hukum Arsul dimulai ketika ia menjadi asisten pembela umum sukarela di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta antara tahun 1986-1988. Dengan pengalaman tersebut, ia mengasah keterampilan hukumnya sebelum bergabung dengan firma hukum.Gani Djemat and Partners dan menjadi visiting lawyer di Dunhil Madden Butler di Sydney pada tahun 1993-1994.
Pada tahun 1997, Arsul mendirikan firma hukumnya sendiri yang kemudian dikenal sebagai SAP Advocates pada tahun 2004. Nama ini cukup terkenal di kalangan praktisi hukum dan menunjukkan bagaimana ia berhasil membangun reputasi yang solid sebelum menginjakkan kaki di dunia politik.
Jalan karier politik Arsul dimulai pada pemilihan umum 2014 ketika ia berhasil terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Keberhasilannya di Senayan tidak lepas dari kemampuannya dalam berkomunikasi dan kapabilitasnya sebagai pemimpin yang diperhitungkan.
Sejak Mei 2016, Arsul dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PPP, mengatur strategi kebijakan partai dengan baik. Ia berhasil mempertahankan kursinya dalam pemilihan berikutnya, di mana ia terpilih kembali sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2019, menunjukkan popularitas dan kepercayaannya di kalangan pemilih.
Di DPR, Arsul terlibat dalam Komisi III yang membidangi hukum dan keamanan. Ia juga aktif di Badan Legislasi dan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara, serta diangkat menjadi Wakil Ketua MPR pada 3 Oktober 2019, memperluas pengaruhnya dalam ranah legislatif.
Selain itu, Arsul aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Fakultas Hukum UI serta menjadi Wakil Ketua Dewan Penasehat DPN Perhimpunan Advokat Indonesia. Selain itu, ia merupakan Ketua ICCA pada tahun 2006-2008, menunjukkan perannya yang signifikan di kalangan advokat di tanah air.
Dari sisi sosial, Arsul juga aktif di berbagai yayasan. Ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Yayasan Asrama Pelajar Islam, Ketua Pengawas Yayasan Al-Azhar, serta Wakil Ketua di Lembaga Penyuluh dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama. Kontribusinya di sektor sosial semakin memperkuat reputasinya di masyarakat.
Arsul menikah dengan Sukma Violetta, mantan Wakil Ketua Komisi Yudisial yang berkiprah dari tahun 206 hingga 2018. Dari pernikahan yang dilangsungkan pada tahun 1992 itu, mereka dikaruniai tiga orang anak yang menjadi kebanggaan keluarga.
Baca juga: Arsul Sani tidak akan laporkan balik penuduh ijazah palsu
Baca juga: Arsul Sani tak ingin suuzan terkait laporan dugaan ijazah palsu
Baca juga: Arsul Sani tunjukkan ijazah asli usai dilaporkan soal ijazah palsu
Pewarta: Melalusa Susthira Khalida
Editor: Alviansyah Pasaribu





























