www.radarharian.id – Pada peringatan Hari Pahlawan tahun 2025, Presiden RI Prabowo Subianto resmi menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh yang telah berkontribusi besar bagi bangsa. Salah satu dari mereka adalah almarhum Sultan Zainal Abidin Syah yang berasal dari Maluku Utara, yang diakui karena perjuangannya dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Indonesia Timur.
Penganugerahan ini tidak hanya mencerminkan penghargaan atas jasa-jasa individu, tetapi juga sebagai bentuk pengakuan terhadap sejarah dan perjuangan daerah yang seringkali terlupakan. Gelar ini diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk mengenal lebih jauh tentang pahlawan mereka.
Sultan Zainal Abidin Syah adalah sosok yang penting dalam konteks sejarah perjuangan bangsa, khususnya dalam menjaga integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai Gubernur Irian Barat yang pertama, ia memiliki peran strategis dalam politik dan diplomasi.
Pada kesempatan ini, akan dibahas lebih lanjut tentang perjalanan hidup dan kontribusi yang dilakukan oleh Zainal Abidin Syah terhadap negara dan rakyatnya. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat dan pengalamannya dalam pemerintahan, ia menjadi butiran berharga dalam perjalanan menuju kemerdekaan.
Dalam sejarah hidupnya, Zainal Abidin Syah lahir di Soa-Sio, Tidore, pada tahun 1912. Dalam berbagai catatan, ia dikenal dengan nama Sultan Zainal Abidin Alting Syah, dan mendapat julukan sebagai “Penjaga Timur Indonesia”. Pendidikan yang ia tempuh sejak dini membekalinya dengan pengetahuan yang luas, yang kelak membantunya dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinan.
Dari awal pendidikannya di sekolah dasar Belanda hingga ke sekolah pegawai negeri pada tahun 1934 di Makassar, ia terus mengembangkan diri. Dengan kegigihan dan dedikasi, ia berhasil meraih posisi sebagai pegawai negeri di beberapa daerah, termasuk Ternate dan Papua Barat.
Selama pendudukan Jepang, Zainal Abidin mengalami masa sulit di mana ia diasingkan selama setahun ke Jailolo. Namun, masa kelam tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk memperjuangkan tanah air. Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ia kembali aktif dalam politik lokal.
Momen Penting dalam Perjuangan yang Bersejarah
Pelantikan Zainal Abidin sebagai Sultan Tidore pada tahun 1947 menjadi salah satu momen krusial dalam hidupnya. Dalam pidatonya yang berani, ia menegaskan bahwa Irian Barat adalah bagian dari Kesultanan Tidore, menandakan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan keberaniannya dalam mengambil posisi di tengah situasi politik yang rumit.
Pada tahun 1949, saat Konferensi Meja Bundar, ia berdiri teguh dalam penolakannya untuk menyerahkan Irian Barat kepada Belanda. Sikap tegasnya menjadi sorotan, mengingat ia adalah satu-satunya anggota parlemen yang mengambil sikap berbeda, merugikan dirinya sekaligus mempertahankan hak sejarah.
Perjuangannya tidak sia-sia, karena pada tanggal 17 Agustus 1956, Presiden Soekarno mengumumkan pembentukan Provinsi Perjuangan Irian Barat. Selama periode ini, nama Zainal Abidin Syah semakin tersohor sebagai pemimpin di wilayah tersebut. Dengan semangat juangnya, ia diangkat sebagai Gubernur Sementara Provinsi tersebut.
Peran dalam Pembentukan Kedaulatan Papua
Pada tahun 1961, Zainal Abidin sekali lagi dipanggil untuk mengambil peran strategis dalam pemerintahan. Ia diangkat sebagai staf di Departemen Dalam Negeri untuk membantu dalam Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora), yang bertujuan untuk membebaskan Irian Barat dari cengkraman Belanda. Keberanian dan dedikasinya sangat dihargai dalam misi besar ini.
Pada 4 Mei 1962, Zainal Abidin resmi ditetapkan sebagai Gubernur Tetap Provinsi Irian Barat. Dalam posisi ini, ia memimpin berbagai upaya untuk memperkuat kedaulatan Papua dalam bingkai NKRI. Kepemimpinannya sangat berpengaruh dalam mendorong program pembangunan dan pemerintahan yang efektif di wilayah tersebut.
Setelah menyelesaikan masa kepemimpinannya, Zainal Abidin memilih untuk menetap di Ambon. Meskipun setelah itu ia tidak lagi terlibat langsung dalam politik, warisannya tetap hidup melalui konstruksi sosial yang dibangunnya di Irian Barat, yang berakar pada keyakinannya akan pentingnya integrasi wilayah-wilayah di Indonesia.
Mewariskan Legacy yang Abadi bagi Bangsa
Ketika Zainal Abidin wafat pada tanggal 4 Juli 1967, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon. Namun, namanya tidak hilang begitu saja dari ingatan masyarakat. Keluarganya bahkan memindahkan kerangka beliau ke tempat lebih terhormat di Sonyine Salaka Kedaton Kie Soa-Sio Kesultanan Tidore pada tahun 1986.
Panjang perjalanan dan berbagai macam perjuangan yang dilalui Zainal Abidin tetap menjadi pelajaran berharga bagi generasi mendatang. Nama dan jasa-jasanya diabadikan dalam bentuk nama jalan utama di Soa-Sio, yaitu Jalan Sultan Zainal Abidin Syah. Ini menjadi salah satu pengingat akan kebanggaan dan komitmennya terhadap kedaulatan NKRI.
Melalui penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai para pahlawan yang telah berjuang untuk tanah air. Dengan mengenang jasa mereka, kita semua diingatkan untuk terus berjuang demi kemajuan dan kedaulatan negara yang kita cintai.





























